Rabu, 06 Mei 2009

Mendingan Ngobrol Daripada Hubungan Seks !

pelacur-rusia1


Resesi ekonomi global mengubah segalanya, termasuk perilaku laki-laki hidung pelangi yang suka ke bisnis esek-esek di Rusia. Para pekerja seks di Rusia saat ini banyak mendapatkan pelanggan jenis baru dari para laki-laki hidung pelangi tersebut.

Dulu mungkin tujuan para laki-laki datang ketempat esek-esek hanya ingin berhubungan intim atau berhubungan seks dengan para wanita-wanita penjaja tubuh alias wanita tuna susila, namun saat ini para laki-laki hidung pelangi di Rusia lebih suka datang dan mengobrol tentang kesulitan bisnis dan pekerjaan yang sedang dihadapi daripada berhubungan intim.

“Mereka berkeluh kesah , sekarangpun banyak yang datang tidak untuk urusan seks, mereka datang hanya ingin berkeluh kesah dan kami hanya menjadi pendengar yang baik, ” ungkap Adriana (30) salah satu pekerja malam yang diwawancarai oleh Rauter di sebuah bar di Moskow.

Menurut pakar seks, kolumnis dan penulis Tracey Fox dari Inggris “Stress adalah faktor besar dalam menurunkan dorongan seks, ” katanya.

Prostitusi adalah kegiatan ilegal di Rusia, namun praktek yang berhubungan dengan seks demi uang tetap tumbuh subur. Di sepanjang jalan raya pelosok Moskow bertebaran para pekerja seks yang mencari tamu.

Merekapun setuju apabila dikatakan permintaan untuk seks menurun sejak krisis ekonomi global dunia melanda berbagai negara. ” Mereka sekarang hanya bicara tentang kerja dan kerja, mereka khawatir kehilangan pekerjaan,” ujar Olya (20), yang kedapatan sedang menjajakan cinta di jalanan utama kota.

Untuk menghadapi kondisi krisis seperti ini, tidak heran jika para penjaja cinta itupun ikut melakukan diskon harga.

Bayaran untuk mereka selama ini cukup bervariasi, banyak yang mengaku dapat hidup layak dengan bekerja sebagai penjaja cinta, dengan penghasilan paling tidak sebesar US$.2.000 atau sekitar Rp.21 jutaan setiap bulan, asalkan bisa mendapatkan beberapa tamu setiap malam.

Adriana, misalnya mengaku mengaku memotong harga jual dirinya sebesar 500 rubel hingga hanya menjadi 2.000 rubel atau sekitar Rp.600.000.- per jam. Hal ini dilakukan karena banyak langganannya yang biasa datang seminggu tiga kali saat ini tidak pernah muncul lagi.

Disisi lain, kelompok prostitusi elite tampaknya tidak berdampak terhadap krisis ekonomi ini, mereka yang membidik pelanggan tajir alias kaya memiliki pelanggan dari manca negara ( wow….sepertinya sudah go international dan masih memasang tarif US$.395 - US$.658 atau Rp.4 juta - Rp.7 juta untuk sekali kencan dan kebanyakan pelanggan dari Timur Tengah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar